Rabu, 30 September 2020

PJJ jangan seperti ini lagi!

Jika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Dilanjutkan, Jangan Seperti Ini Lagi!

 

Ketika bel berbunyi di sebuah selasar sekolah, obrolan apapun di kelas harus berhenti. Semua harus berganti aktivitas. Itulah gambaran kelas standar tatap muka.

Sayangnya, bel itu masih berbunyi bahkan di saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat pandemi covid-19 ini terjadi. Mengapa demikian? Mari kita bahas!

Beberapa pakar pendidikan, baik luar negeri maupun dalam negeri, meyakini akan terjadinya perubahan besar dalam pendidikan setelah pandemi covid-19 ini. Beberapa pengamat, guru, dan beberapa orangtua murid menyetujui kemungkinan tersebut. Salah satu gejalanya adalah masifnya penggunaan teknologi.

Saya, sebagai seorang guru, justru meragukan perubahan tersebut. Beberapa hal berikut ini yang mendasari pandangan ini.

1. Darurat.

Ya, PJJ saat ini terjadi dalam kondisi darurat. Karena darurat, maka penggunaan internet dan macam-macam aplikasinya tidak bergerak secara sadar dan penuh rencana. Akhirnya, yang terjadi adalah proses mencicipi. Semua dipaksa mencicipi beragam aplikasi, mulai dari Google Form, Google Classroom, edmodo, Whatsapp, dan lain sebagainya. Setelah mencicipi, mereka diminta menyesuaikan diri dan menyetujui hubungan penting aplikasi-aplikasi tersebut dengan proses belajar.

Kenapa mencicipi? Karena mayoritas guru, murid, ataupun orangtua, baru saat ini menyentuh dan menggunakan internet beserta aplikasi lainnya untuk belajar. Berpikir untuk mengembangkan proses belajar saja belum, mereka kebanyakan baru berpikir bagaimana cara menggunakan alat baru tersebut dengan baik.

Apakah semua guru dan murid di negara ini bisa ikut mencicipi? Tentu tidak. Dalam hal ini, pemerataan akses pendidikan dan sarana prasarana menjadi penentu dan pengaruh yang besar. Bagi mereka yang bisa mencicipi saja masih banyak kendala, bagaimana dengan saudara-saudara kita yang belum bisa mencicipi sama sekali?

 2. Relaksasi kurikulum.

Dalam kondisi darurat, wajar jika semua hal menjadi boleh dan longgar, termasuk kurikulum. Sambil berproses mencicipi PJJ, maka pagar kurikulum dicabut, target dikendorkan, dan pembelajaran lebih terbuka. Maksudnya, terbuka diadakan, terbuka juga tidak diadakan setiap hari.

Tidak ada yang berubah dalam pendidikan kita jika pencapaian saja belum terukur. Baik mengukur perencanaan, pelaksaan, hingga hasil belajar. Untuk saat ini, seolah-olah satu-satunya ukuran adalah “asal terlaksana. Yang penting belajar”.  

3. Tidak ada bukti bahwa PJJ ini efektif sebagai proses belajar.

Betul sekali apa yang diungkapkan oleh pakar pendidikan Yong Zhao, bahwa dalam kondisi seperti ini tidak lagi relevan bertanya, Apakah model pembelajaran di saat seperti ini efektif. Karena tidak relevan, maka tampaknya kita belum menjumpai sebuah laporan akademis bahwa proses PJJ ini sangat bagus dan efektif sebagai model pembelajaran.

Seorang tetangga bercerita bahwa sudah dua bulan lebih anaknya tidak belajar sama sekali. Yang dia maksud tidak belajar adalah anaknya tidak mendapatkan apapun dari proses PJJ ini. Sampai-sampai, dia berkomentar, “lebih baik cepat masuk ke sekolah saja”.

Sekali lagi, saat ini tidak ada model terbaik untuk pembelajaran jarak jauh. Siswa yang berada di pedesaan dengan keterbatasan perangkat, bisa jadi model terbaik adalah siswa mengambil soal ke sekolah dan mengerjakanya di rumah. Model ini tentu tidak cocok dalam lingkungan yang berbeda.

4. Mindset belum berubah.

Ini benar-benar terjadi di banyak tempat. Bagi yang tiba-tiba mengenal aplikasi Zoom, maka seolah-olah menemukan kelas baru. Dia mulai merencanakan jadwal pelajaran dengan waktu tertentu untuk tatap muka melalui aplikasi tersebut. Lagi-lagi, ritmenya diatur kembali oleh sekolah. Ritme yang sama persis dengan tatap muka di kelas.

Inilah yang saya sebut dengan “bel itu berbunyi” lagi.

Padahal menurut Salman Khan, pendiri Khan Academy, semangat dasar belajar berbasis internet adalah kebebasan. Dalam bukunya yang berjudul The One World Schoolhouse (2012), Khan mengungkapkan bahwa semangat internet dan komputer/gadget pribadi adalah adanya kebebasan untuk menentukan di mana dan kapan proses belajar terjadi. Belajar apapun bisa dilakukan kapan saja dan sumbernya juga beragam.

Faktanya, semua kembali menerapkan standar tatap muka. Dan itu terjadi dengan tidak sadar. Dalam kondisi tidak siap seperti sekarang, belajar menjadi lebih sulit lagi. Setelah melalui zoom meeting, misalnya, murid tidak menemukan tempat bertanya saat tidak paham, tidak ada feedback dari guru, apalagi perhatian individu. Lebih mengenaskan lagi jika kuotanya terbatas.

Sekali lagi, tidak ada yang berubah jika mindset juga belum berubah. 

Apakah tidak ada perubahan sama sekali?

Pasti ada. Minimal banyak guru dan murid yang telah mencicipi fungsi internet, gawai, dan aplikasi-aplikasinya untuk pembelajaran. Kini, banyak guru yang lebih dekat dengan internet dan manfaatnya bagi pembelajaran.

Namun, ingat, layaknya seorang pemuja lidah, setelah mencicipi masakan tertentu di sebuah warung, maka selalu memiliki dua kemungkinan; kembali lagi karena merasa nyaman dan enak atau tidak kembali karena alasan tertentu.

Itulah refleksi PJJ hingga sejauh ini.

Tengoklah ke belakang!, perubahan-perubahan dalam pendidikan akan terjadi lebih karena penemuan, baik yang teoritis maupun praktis. Misalnya, penemuan kertas, mesin cetak, televisi, internet, dan media sosial. Atau yang bersifat teori pemikiran, misalnya psikologi positif, multiple intelligence, neurosains, dan teori-teori lainnya.

Sekali lagi, jika bel sekolah atau sejenisnya terus membatasi waktu belajar, maka kreativitas dan kemajuan akan terhambat. Jika PJJ dilakukan dengan masih menggunakan standar tatap muka langsung, harapan berubah terhadap pendidikan kita belum akan muncul.

 

Selasa, 22 September 2020

Konsep, Karakteristik, Tujuan, Manfaat dan Komponen E-Learning

Konsep E-Learning

´ E-learning adalah himpunan aplikasi dan proses yang meliputi pembelajaran berbasis web (web based learning), pembelajaran berbasis komputer (computer based learning), dan kelas virtual /maya(virtual  lassroom) (The American Society for Training and Development )

´ Sebuah teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk dunia maya.

´ E-learning sering pula disebut pembelajaran onlineatau online course.
Pembelajaran online dalam pelaksanaannya memanfaatkan dukungan jasa
teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, seperti komputer, telepon, audio, video, transmisi satelit, dan sebagainya

´ Memunculkan model pembelajaran baru:

1.  Computer Based Learning: software, soft copy

2.  Web Based Learning

3.  Mobile Learning

 

Karakteristik E-Learning

1.   Interactivity

E-learning harus memfasilitasi jalur komunikasi baik secara real time(synchronus) seperti chatting dan messenger, maupun tidak real time (asynchronous) seperti forum dan mailing list.

2.   Independency/kemandirian

Ketersediaan bahan belajar, waktu, dan akses yang flexibel memungkinkan peserta didik untuk melakukan aktivitas pembelajaran sesuai dengan kondisi masing-masing dan menjadi active learner. Namun hal ini tidak akan berjalan baik jika masing-masing individu tidak memiliki kemandirian. Kemandirian disini berarti peserta didik belajar tanpa ada yang menyuruh atau mengingatkan, mengerjakan tugas tanpa ada yang mengejar-ngejar dan lain-lain. Semua berdasarkan kesadaran sendiri. Jadwal, pengaturan waktu dan reminder, bahkan saran acuan belajar yang ada hanya berupa mesin belaka, yang tidak akan berarti apapun jika peserta didik tidak menyadarinya secara mandiri.

3.   Accessibillity/aksesabilitas

Sumber-sumber belajar dan informasi akademik harus lebih mudah diakses dan terdistribusi lebih luas dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

4.   Enrichment/pengayaan

Kegiatan pembelajaran serta presentasi bahan pembelajaran disajikan dengan cara yang lebih variatif dan interaktif seperti penggunaan video striming, aplikasi simulasi, dan animasi.

 

Tujuan E-Learning

1.  Meningkatkan daya serap peserta didik atas materi yang diajarkan, meningkatkan partisipasi aktif

2.    Meningkatkan kemampuan belajar mandiri

3.    Meningkatkan kualitas materi pembelajaran

4.    Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu

 

Manfaat E-Learning

1.   Pengajar dan pembelajara dapat berkomunikasi secara cepat dan mudah melalui fasilitas internettanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu

2.  Peran pembelajar menjadi lebih aktif mempelajari materi pembelajaran, memperoleh ilmu pengetahuan atau informasi secara mandiri tidak mengandalkan pemberian dari pengajar, disesuaikan pula dengan keinginan dan minatnya terhadap materi pembelajaran.

3.   Relatif lebih efisien dari segi tempat, waktu, dan biaya.

 

Komponen E-Learning

1.   Infrastruktur

Infrastruktur e-learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk didalamnya peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning melalui teleconference.

2.   Sistem dan aplikasi

Sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), manajemen proses belajar mengajar. Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan Learning Management Sistem (LMS). LMS banyak yang opensource sehingga bisa kita manfaatkan dengan mudah dan murah untuk dibangun di sekolah dan universitas.

3.   Konten

Konten dan bahan ajar yang pada e-Learning system (Learning Management System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa). Konten ini disimpan dalam Learning Management System (LMS) Sehingga dapat dijalankan oleh siswa kapanpun dan dimanapun.


PJJ jangan seperti ini lagi!

Jika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Dilanjutkan, Jangan Seperti Ini Lagi!   Ketika bel berbunyi di sebuah selasar sekolah, obrolan apapun...