Jika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Dilanjutkan, Jangan Seperti Ini Lagi!
Ketika bel berbunyi di sebuah selasar sekolah, obrolan apapun di kelas
harus berhenti. Semua harus berganti aktivitas. Itulah gambaran kelas standar
tatap muka.
Sayangnya, bel itu masih berbunyi bahkan di saat Pembelajaran Jarak Jauh
(PJJ) akibat pandemi covid-19 ini terjadi. Mengapa demikian? Mari kita bahas!
Beberapa pakar pendidikan, baik luar negeri maupun dalam negeri, meyakini
akan terjadinya perubahan besar dalam pendidikan setelah pandemi covid-19 ini.
Beberapa pengamat, guru, dan beberapa orangtua murid menyetujui kemungkinan
tersebut. Salah satu gejalanya adalah masifnya penggunaan teknologi.
Saya, sebagai seorang guru, justru meragukan perubahan tersebut. Beberapa
hal berikut ini yang mendasari pandangan ini.
1. Darurat.
Ya, PJJ saat ini terjadi dalam kondisi darurat. Karena darurat, maka
penggunaan internet dan macam-macam aplikasinya tidak bergerak secara sadar dan
penuh rencana. Akhirnya, yang terjadi adalah proses mencicipi. Semua dipaksa
mencicipi beragam aplikasi, mulai dari Google Form, Google Classroom, edmodo,
Whatsapp, dan lain sebagainya. Setelah mencicipi, mereka diminta menyesuaikan
diri dan menyetujui hubungan penting aplikasi-aplikasi tersebut dengan proses
belajar.
Kenapa mencicipi? Karena mayoritas guru, murid, ataupun orangtua, baru saat
ini menyentuh dan menggunakan internet beserta aplikasi lainnya untuk belajar.
Berpikir untuk mengembangkan proses belajar saja belum, mereka kebanyakan baru
berpikir bagaimana cara menggunakan alat baru tersebut dengan baik.
Apakah semua guru dan murid di negara ini bisa ikut mencicipi? Tentu tidak.
Dalam hal ini, pemerataan akses pendidikan dan sarana prasarana menjadi penentu
dan pengaruh yang besar. Bagi mereka yang bisa mencicipi saja masih banyak
kendala, bagaimana dengan saudara-saudara kita yang belum bisa mencicipi sama
sekali?
2. Relaksasi kurikulum.
Dalam kondisi darurat, wajar jika semua hal menjadi boleh dan longgar,
termasuk kurikulum. Sambil berproses mencicipi PJJ, maka pagar kurikulum
dicabut, target dikendorkan, dan pembelajaran lebih terbuka. Maksudnya, terbuka
diadakan, terbuka juga tidak diadakan setiap hari.
Tidak ada yang berubah dalam pendidikan kita jika pencapaian saja belum
terukur. Baik mengukur perencanaan, pelaksaan, hingga hasil belajar. Untuk saat
ini, seolah-olah satu-satunya ukuran adalah “asal terlaksana. Yang penting
belajar”.
3. Tidak ada bukti bahwa PJJ ini efektif sebagai proses belajar.
Betul sekali apa yang diungkapkan oleh pakar pendidikan Yong Zhao, bahwa
dalam kondisi seperti ini tidak lagi relevan bertanya, Apakah model
pembelajaran di saat seperti ini efektif. Karena tidak relevan, maka tampaknya
kita belum menjumpai sebuah laporan akademis bahwa proses PJJ ini sangat bagus
dan efektif sebagai model pembelajaran.
Seorang tetangga bercerita bahwa sudah dua bulan lebih anaknya tidak
belajar sama sekali. Yang dia maksud tidak belajar adalah anaknya tidak
mendapatkan apapun dari proses PJJ ini. Sampai-sampai, dia berkomentar, “lebih
baik cepat masuk ke sekolah saja”.
Sekali lagi, saat ini tidak ada model terbaik untuk pembelajaran jarak
jauh. Siswa yang berada di pedesaan dengan keterbatasan perangkat, bisa jadi
model terbaik adalah siswa mengambil soal ke sekolah dan mengerjakanya di
rumah. Model ini tentu tidak cocok dalam lingkungan yang berbeda.
4. Mindset belum berubah.
Ini benar-benar terjadi di banyak tempat. Bagi yang tiba-tiba mengenal
aplikasi Zoom, maka seolah-olah menemukan kelas baru. Dia mulai merencanakan
jadwal pelajaran dengan waktu tertentu untuk tatap muka melalui aplikasi
tersebut. Lagi-lagi, ritmenya diatur kembali oleh sekolah. Ritme yang sama
persis dengan tatap muka di kelas.
Inilah yang saya sebut dengan “bel itu berbunyi” lagi.
Padahal menurut Salman Khan, pendiri Khan Academy, semangat dasar belajar
berbasis internet adalah kebebasan. Dalam bukunya yang berjudul The One World
Schoolhouse (2012), Khan mengungkapkan bahwa semangat internet dan
komputer/gadget pribadi adalah adanya kebebasan untuk menentukan di mana dan
kapan proses belajar terjadi. Belajar apapun bisa dilakukan kapan saja dan
sumbernya juga beragam.
Faktanya, semua kembali menerapkan standar tatap muka. Dan itu terjadi
dengan tidak sadar. Dalam kondisi tidak siap seperti sekarang, belajar menjadi
lebih sulit lagi. Setelah melalui zoom meeting, misalnya, murid tidak menemukan
tempat bertanya saat tidak paham, tidak ada feedback dari guru, apalagi
perhatian individu. Lebih mengenaskan lagi jika kuotanya terbatas.
Sekali lagi, tidak ada yang berubah jika mindset juga belum berubah.
Apakah tidak ada perubahan sama sekali?
Pasti ada. Minimal banyak guru dan murid yang telah mencicipi fungsi
internet, gawai, dan aplikasi-aplikasinya untuk pembelajaran. Kini, banyak guru
yang lebih dekat dengan internet dan manfaatnya bagi pembelajaran.
Namun, ingat, layaknya seorang pemuja lidah, setelah mencicipi masakan
tertentu di sebuah warung, maka selalu memiliki dua kemungkinan; kembali lagi
karena merasa nyaman dan enak atau tidak kembali karena alasan tertentu.
Itulah refleksi PJJ hingga sejauh ini.
Tengoklah ke belakang!, perubahan-perubahan dalam pendidikan akan terjadi
lebih karena penemuan, baik yang teoritis maupun praktis. Misalnya, penemuan
kertas, mesin cetak, televisi, internet, dan media sosial. Atau yang bersifat
teori pemikiran, misalnya psikologi positif, multiple intelligence, neurosains,
dan teori-teori lainnya.
Sekali lagi, jika bel sekolah atau sejenisnya terus membatasi waktu
belajar, maka kreativitas dan kemajuan akan terhambat. Jika PJJ dilakukan
dengan masih menggunakan standar tatap muka langsung, harapan berubah terhadap
pendidikan kita belum akan muncul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar